[ Cerpen ] Rania II

15.07

Randi tidak sekelas dengan Rania, dan itu membuat Rania sangat bersyukur. Dia membayangkan akan sesulit apa harinya, jika  sekelas dengan Randi. Apa dia harus mematung tiap hari ? Dan itu tak mungkin.

Suatu hari ada seorang teman sekelas Randi yang bernama Willy, bertingkah aneh. Apa hanya Rania yang merasakan, atau memang dia seperti itu. Willy menjadi orang yang sangat ramah pada Rania, tidak seperti biasanya, bahkan mereka tak saling mengenal satu sama lain, tapi anehnya Willy seakan-akan sudah mengenal Rania cukup lama.

Setiap ada kesempatan ketika Willy dan Rania bersama atau saling pandang, Willy selalu membuat senyum indahnya yang menawan, awalnya Rania diam saja, ya karena mereka saling tak kenal, takut Willy bukan senyum padanya, tetapi semakin lama, Rania semakin yakin kalau senyuman itu memang untuk Rania seorang, akhirnya Rania pun membalasnya.

Ini aneh, Randi dan Rania saja kalau bertemu tak akan seperti itu, saling senyum dan saling sapa, boro-boro senyum, Rania langsung ngacir jika bertemu Randi. Tapi bagi Rania ini adalah sesuatu yang dia rindukan, tersenyum kepada seseorang dan membalas senyumnya, itulah hal sederhana yang indah, dia mulai merasa kecewa hubungannya dengan Randi tak seindah itu. Salah siapa coba, kenapa dia harus lari kalau ketemu Randi ? siapa yang malu kalau mereka saling berpapasan? Ya itu semua salah Rania sendiri.

Yang pasti bagi Rania, Willy adalah angin yang menyegarkan, di tengah hubungannya dengan Randi bak gurun pasir yang gersang. Semakin lama Willy semakin berani mendekati Rania, mulai diajak mengobrol saat di perpustakaan, menyapanya ketika sendirian, dan itu membuat Rania gugup dan merasa apa ya, Rania seperti punya pegagum rahasia, dan itu menyenangkan!

Willy hanya berani mendekati Rania ketika dia sendiri, ketika Rania bersama teman-temannya Willy hanya bisa memandang dari kejauhan dengan pandangan yang mendebarkan. Ya seperti pengecut memang, tapi tak ada hal lain yang bisa dilakukan Willy, karena hampir satu sekolah tahu, hubungan antara Rania dan Randi yang fenomenal aneh itu.

Rania tak punya tempat curhat, dia tak bisa menceritakan tentang Willy kepada sahabatnya. Rania takut sahabatnya akan berprasangka jelek padanya. Rania hanya merasa senang saja, karena dia mempunyai secret lover , tidak lebih dari itu, walaupun hubungannya dengan Randi tak berjalan mulus, bukan berarti dia akan berpaling dari Randi. Ya, Rania adalah seorang yang setia, dan dia selalu mencoba untuk setia, bagaimanapun keadaanya

Rania Cuma bisa melampiaskan kegalauannya lewat sebuah puisi :

DUA
Berburu di samudra pasir
Berburu di padang berdebu
Bak puyuh berputar tujuh

Tepian kian berjalan menghilang
Menghalang langkah mencari arah

Si Musang memang mengharap datang
Mangsa yang lama dinantikan
Dengan pandangan dia menyerang
Menerkam,,, dalam ramai keledai

Tapi si Rubah akankah marah
Karena tabir yang terukir
Masih di hati merpati

Dinding –dinding hanya melihat
Mereka memandang dengan kebutaan

Biarkan hati diliputi tsunami
Yang dapat rapat setiap saat

Tiga baris pertama puisi Rania ini, menceritakan tentang kebimbangan dan kegalauan tingkat dewa baginya. Dia tak tahu harus kemana untuk mengungkapkan semuanya. Harapan tentang kejelasan hubungannya baik dengan Randi atau dengan Willy seakan-akan tak nampak ujungnya.

Musang “ adalah Willy, “ Rubah “ itu Randi dan “ Merpati ” adalah Rania, sahabat dan teman-teman Rania diibaratkan “ Dinding “dan “ Keledai ” . Musang menyerang merpati dengan pandangan mautnya, diantara puluhan keledai dan kebutaan dinding, Rubah mungkin tak tahu atau di pura-pura tak tahu merpati yang dicintainya sedang dalam pengawasan Musang. Ya tinggal menunggu waktu, apakah sang Musang benar-benar akan menyerang, dan akhirnya dia akan menghianati teman sekelasnya, ataukah dia selamanya hanya akan menjadi pengagum rahasia ?


Bersambung Part 3…

You Might Also Like

0 komentar

Instagram