Percaya Diri datang dari Hati yang Ikhlas

20.44



 “ Seorang anak yang tumbuh dengan cinta, kelak cinta lah yang akan menemaninya”

Menjadi ibu adalah hal luar biasa yang tidak semua wanita bisa merasakan nikmatnya. Melahirkan seorang anak yang telah tumbuh dalam rahim selama 9 bulan. Mereka tumbuh dengan kuasa Tuhan, segala yang ada pada mereka, darahnya, dagingnya, detaknya, ibunyalah yang senantiasa menemani. Melihat seorang anak yang begitu imut dan lucu dan keajaiban yang ada padanya, membuatku merasa ingin mempunyai seorang anak saat itu juga, padahal umurku masih belasan tahun. Harapan yang aneh dan tidak masuk akal bagi orang seumuranku waktu itu.

Sekarang umurku sudah 25 tahun, dan aku pun sudah memenuhi harapanku untuk menjadi seorang ibu yang melahirkan seorang anak yang tumbuh di rahimku, dengan darah dan daging yang menyatu dalam tubuhku.

 Tanggal 14 April 2015, hari anak pertamaku lahir, seorang anak perempuan, dengan perjuangan yang berat dan sakit yang sangat, semua terbayar ketika tangisan kecilnya menggema, semua luka pun menjadi nikmat. 

Hadzwa putri pertamaku


Setahun berlalu, malaikat kecilku telah tumbuh menjadi anak yang jauh dari bayanganku. Dia sangat aktif, banyak ngocehnya, kalau ngomel suka ga jelas, menguasai bahasa dengan cepat, tanggap, kalau lagi teriak suaranya melengking sampai ke ujung komplek. Sekarang harapanku adalah bisa terus menemaninya tumbuh, memberinya kasih sayang penuh seorang ibu dan mengembangkan bakatnya, menstimulasinya dengan baik agar ia kelak menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab. 


“ Harapan Untuk manusia, Kenyataan dan Takdir Allah lah yang berkuasa”

Tapi Allah berkehandak lain, harapanku untuk mencintainya dan memberinya kasih sayang penuh, rupanya harus terbagi dengan hadirnya malaikat kecil lain yang baru tumbuh dalam rahimku. Ya, aku hamil lagi anak kedua, hamil yang tak kusangka-sangka, nikmat dari Allah yang datang tiba-tiba. Sedih, senang, malu, merasa terbebani dan merasa bangga, tercampur aduk dalam kehamilanku kedua yang begitu dekat jaraknya. 

Aku takut orang lain akan memandang dengan pandangan menghina, seakan-akan mereka mengatakan secara tersirat
“ Enak ya bikin anak terus, emang ga mikir apa, mendidik dan memelihara anak itu mudah”,

“kasihan kakaknya ga dapet kasih sayang”,

bahkan omongan paling parah justru keluar dari mulut seorang yang bertugas di bidang kesehatan, ketika aku sedang memeriksakan kandungan, dia berkata

 “ Hah! Ibu punya anak bayi, sekarang lagi hamil lagi? Yang bener aja BU!”.

Aku hanya tersenyum, sakit sih tapi mau bagaimana lagi, semua sudah ditakdirkan dan inilah rezeki dari Allah untuk ku dan suami. Tapi rasa ketidakpercayaan diriku mulai muncul perlahan.

Setiap pergi ketempat umum yang banyak orang berlallu lalang dan saling memperhatikan, aku mulai merasa tak nyaman. Tak nyaman karena aku merasa mereka semua mengatakan hal yang sama

 “ Hah lagi hamil?, padahal kan punya anak kecil”,

aku merasa malu dan tak percaya diri, dan boom! Itu hanya pikiran negatif ku tentang mereka. Pemikiran yang tak berdasar, padahal belum tentu mereka memperhatikanku. 

Pada suatu saat aku lihat sebuah postingan di instagram, seorang ibu bule yang sedang hamil, berfoto dengan seorang anak di stoller, yang menurutku anak itu belum 2 tahun. Setelah aku baca captionnya, ternyata ibu itu mempunyai 2 anak dalam jarak yang sangat dekat, bahkan lebih dekat dari pada aku. Setelah aku stalking IG nya banyak foto dia memamerkan perut buncitnya bersama anak pertamanya. Dia begitu bangga berpose di setiap foto yang dipostingnya. Aku jadi heran, kok bisa ya dia bangga, padahal aku disini, di Indonesia merasa malu, jika punya anak dalam jarak dekat. 

@kingsleigh.remington  (Kingsleigh 18 month, Remington 7 weeks)

Apa mungkin karena status sosial, atau mungkin juga karena beda adat istiadat serta normanya dan latar pendidikannya, entah lah yang mana, yang jelas bukan hanya dia saja, ternyata masih banyak ibu-ibu lain di luar sana yang sama bangganya punya anak dengan jarak yang dekat. Dari sini lah kepercayaan diriku mulai muncul kembali. 

Tanggal 1 Oktober 2016 anak kedua ku lahir, seorang anak laki-laki yang imut. Pada saat persalinannya aku lebih tenang karena ini pengalaman keduaku. Dan luka masa pasca persalinan ku sembuh dengan cepat. Mulai sekarang aku akan terus berfikir positif dan menjadi lebih percaya diri. Apa yang terjadi pada diriku, bukan salah ku atau suamiku, atau salah siapapun, semuanya telah tertulis dalam buku takdirku. Dengan pikiranku yang positif aku percaya, aku bisa mengasuh kedua anakku dengan possitif juga, sehingga dua-duanya merasakan kasih sayang penuh yang kumiliki tanpa harus di bagi-bagi. 

Hasbi putra keduaku

Agar pikiran tambah positif, banyak faktor yang harus mendukungnya. Termasuk kondisi kepala dan rambut. Kalau rambutku halus, lembut ga berminyak dan segar, kepala akan nyaman, akhirnya pikiran pun menjadi lebih terang, sehingga tingkat stress pun menurun, jadi ketika menghadapi dua anak, dan kedua-duanya rewel, bisa dihadapi dengan kepala dingin. Karena bagaimana pun juga emosi itu takkan menyelesaikan masalah. Ditambah diriku yang memakai hijab, kalau kesegaran rambutnya tak terjaga bisa pusing batin dan jiwa.

Kebetulan sekali, Serioxyl Confidence dari L'Oreal Indonesia mengadakan quiz tentang confidence, aku pun penasaran, sampai mana dan jenis apakah percaya diriku selama ini. Langsung saja aku ikuti kuisnya dengan klik www.serioxyl-confidence.com.  Ada voucher perawatan rambut gratis pula, semoga bisa merasakan segarnya serioxyl dari Loreal.

Inilah hasil Quiz ku

 Menyenangkan sekali setelah tahu hasil dari quiz ini, selalu berfikir positif dan terus belajar. Karena percaya diri itu datang dari hati yang ikhlas.

“post ini diikutsertakan dalam Blog Competition Serioxyl X IHB.
 sumber gambar : - dokumentasi pribadi
                           - instagram @kingleigh.remington


You Might Also Like

6 komentar

Instagram