[Puisi] Marah

09.25


Kicau hijau menyebar lebar
Menyimpan alam dalam pelukan
Sembahkan ciptaan mencari rizki 
 Namun kaum masih ranum
Akan radang yang terpampang
Sekarang elang terbang menebang
Kicau hijau kacau balau 
 Marah tanah menelan korban
Seluruh ruh menghempas lepas
Tanggal abal tinggal sesal
Menyusup hirup menyatu kalbu 
 Kini hati harus mati
Oleh benalu yang berlalu 
Suci diri suci ragawi
Bersatu pangku dengan Tuhanku

Puisi ini aku buat kalau ga salah setelah ada kejadian kebakaran hutan, tepatnya kapan aku sudah lupa, karena tak ada satu puisiku yang tertulis tanggal pembuatannya.

“Kicau hijau“ di sini bermakna “ Hutan”. Jadi artinya di Indonesia kita, hutan begitu luasnya, bahkan jantungnya dunia ada di pelukannya. Banyak  manusia mencari ma’isyah dari hutan, hutan menghasilkan berbagai macam komoditi. Berbagai macam flora dan fauna hidup dan berkembang di dalamnya.

Namun banyak manusia yang masih “Ranum”, masih kurang pengetahuan tentang betapa pentingnya hutan, sehingga kebanyakan dari mereka, terutama “Elang” yaitu orang-orang yang tak bertanggung jawab, mulai mengeksploitasi hutan.

Menebang secara liar tanpa adanya penghijauan, membakar lahan, membunuh fauna langka, dan membuang sampah sembarangan, ini adalah perbuatan yang membuat “Kicau hijau kacau balau” . keseimbangan alam mulai goyah, kerusakan dimana-mana, yang membuat “Tanah marah” sehingga banyak manusia yang jadi korban, banyak yang meninggal dunia karena kelalaiannya sendiri dan karena marah dari Tuhan.

Tinggal lah sesal yang menghuni batin, tetapi anehnya tiap tahun kejadian yang sama selalu berulang, kadang aku bertanya apanya yang salah ?, kenapa mereka tidak belajar dari kesalahan yang telah lalu.

Sekarang mari kita hindari “benalu”  perasaan tamak rakus akan kekayaan dan kekuasaan, yang bisa membuat hati kita sakit, benalu itu harus kita basmi, untuk mensucikan jiwa dan raga, agar kita bisa menyatu rasa dengan Tuhan Yang Maha Esa.

You Might Also Like

2 komentar

Instagram